996: Budaya Kerja yang Menggerus Kemanusiaan dan untuk Kemajuan Peradaban

Apa jadinya jika kemajuan peradaban dibangun di atas kelelahan manusia? Di dunia yang menyanjung produktivitas, bekerja tanpa henti sering dianggap sebagai bentuk dedikasi tertinggi. Namun di balik layar ambisi dan prestasi, tersimpan kenyataan pahit: ada harga yang harus dibayar, dan sering kali itu adalah kemanusiaan itu sendiri. Budaya kerja 996 di Tiongkok dimana bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam seminggu sebagai simbol dari dua sisi mata uang: kemajuan dan kelelahan. Ia melahirkan raksasa teknologi dunia seperti Alibaba, Tencent, dan Huawei, tetapi juga meninggalkan jejak panjang berupa kelelahan fisik, kehilangan makna, dan kesunyian manusia di tengah kemajuan.

Akar dari Budaya 996

Budaya ini bukan lahir tanpa alasan. Ia tumbuh dari ambisi nasional Tiongkok untuk bertransformasi dari pabrik dunia menjadi pusat inovasi global. Dalam dua dekade terakhir, semangat kompetisi dan nasionalisme ekonomi menciptakan iklim kerja yang luar biasa agresif. “Kerja keras adalah bentuk cinta terhadap perusahaan,” kata banyak pemimpin bisnis Tiongkok. Jack Ma bahkan menyebut 996 sebagai “berkah”. Pandangan seperti ini menular ke ribuan startup yang bermimpi menjadi “Alibaba berikutnya.”

Namun di balik euforia itu, 996 juga menunjukkan wajah keras dari pembangunan modern: ketika manusia menjadi bahan bakar mesin ekonomi, bukan lagi pengendali arah.

Produktivitas yang Menipu

Dari perspektif manajemen, jam kerja panjang tidak selalu berarti produktivitas tinggi. Penelitian dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa setelah 50 jam kerja per minggu, produktivitas seseorang menurun drastis. Di atas 60 jam, penurunan itu bahkan bisa mencapai 30%. Tubuh manusia punya batas, begitu juga pikiran.

Namun, perusahaan sering kali terjebak dalam ilusi: semakin lama seseorang bekerja, semakin besar hasilnya. Padahal, yang meningkat bukan hasil, tapi kelelahan. Banyak pekerja 996 hidup dalam siklus burnout yang tak pernah selesai. Bekerja keras demi penghargaan yang tak pernah datang, lalu merasa bersalah ketika ingin beristirahat. Budaya ini menanamkan gagasan bahwa istirahat adalah dosa dan diam berarti malas. Padahal, tanpa jeda, pikiran kehilangan daya cipta. Dan ketika kreativitas mati, kemajuan pun mandek.

Kemanusiaan yang Terkikis

Kerja adalah bagian dari hidup, tapi dalam sistem 996, kerja menjadi hidup itu sendiri. Kantor berubah menjadi rumah kedua, bahkan sering kali satu-satunya rumah yang benar-benar “dihuni”. Hubungan sosial menyempit, keluarga dijadikan prioritas kedua, dan waktu pribadi dianggap kemewahan. Fenomena ini menandai apa yang disebut para sosiolog sebagai alienasi modern. Yakni,  ketika seseorang bekerja tanpa lagi memahami makna di balik pekerjaannya. Ia produktif, tapi tidak merasa hidup. Ia sibuk, tapi kosong.

Kasus-kasus kematian akibat lembur (guolaosi) menjadi pengingat pahit bahwa di balik kilauan gedung perusahaan besar, ada tubuh-tubuh yang jatuh karena terlalu lama menanggung ambisi.

Namun... Inilah Wajah Kemajuan

Di sisi lain, kita tak bisa menutup mata: budaya kerja ekstrem seperti 996 juga menjadi bahan bakar yang mendorong peradaban digital Tiongkok maju begitu cepat. Negeri itu kini memimpin dalam bidang AI, e-commerce, dan teknologi keuangan. Inovasi-inovasi besar lahir dari para insinyur dan programmer yang bekerja siang-malam tanpa henti.

Mereka membangun sistem yang kini digunakan jutaan orang di seluruh dunia. Tanpa “obsesi kolektif” seperti itu, mungkin Tiongkok tidak akan mampu menyaingi Amerika Serikat dalam waktu sesingkat ini. Maka, di sinilah paradoksnya: 996 memang menggerus kemanusiaan, tapi juga menggerakkan peradaban. Ia seperti api yang menerangi, tapi juga membakar.

Pertanyaannya, sampai kapan api itu bisa terus menyala tanpa membakar habis manusianya?

Sisi Gelap yang Menuntut Cahaya Baru

Tidak semua perusahaan bisa atau harus meniru 996. Dunia kini mulai menyadari bahwa inovasi sejati tidak lahir dari kelelahan, tapi dari keseimbangan. Perusahaan global seperti Microsoft, Google, dan bahkan beberapa startup Tiongkok baru mulai menerapkan konsep “smart work, not hard work.” Mereka menekankan efisiensi, otonomi, dan ruang kreatif bagi karyawan. 

Paradigma baru ini menantang sistem lama:

  • Dari jam menuju hasil. Fokus bukan pada durasi kerja, melainkan nilai yang diciptakan.

  • Dari kontrol menuju kepercayaan. Pekerja yang dipercaya akan lebih bertanggung jawab dan berinisiatif.

  • Dari ambisi menuju keseimbangan. Kemajuan peradaban bukan hanya tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa lama kita bisa bertahan.

Peradaban yang Ingin Kita Bangun

Kita hidup di era di mana kecepatan dianggap segalanya. Namun, jika peradaban hanya dibangun di atas kerja tanpa henti, kita sedang menciptakan dunia yang cepat tetapi rapuh. Dunia yang canggih secara teknologi, namun miskin empati. 

Budaya 996 adalah peringatan bahwa peradaban modern bisa jatuh ke jurang yang sama dengan yang coba ditinggalkannya: perbudakan, hanya saja kini dengan laptop dan wifi.

Namun, ia juga memberi pelajaran: kemajuan tidak selalu berarti kehilangan. Kita bisa belajar dari semangat mereka mulai dari dedikasi, kerja keras, dan disiplin tanpa menelan mentah sistem yang menghancurkan keseimbangan manusia. Karena pada akhirnya, kemajuan sejati bukan tentang siapa yang bekerja paling lama, tapi siapa yang mampu bekerja dengan makna, mencipta dengan cinta, dan hidup dengan sadar.

Penutup

Budaya 996 menantang kita untuk berpikir ulang tentang arah peradaban kerja modern. Apakah kemajuan harus mengorbankan kebahagiaan manusia? Ataukah kita mampu menciptakan sistem kerja yang membuat manusia tumbuh bersama peradabannya?

Kerja keras tetap penting, tapi ia harus disertai kesadaran. Kemajuan tetap perlu, tapi tidak boleh menghapus kemanusiaan. Karena bila manusia kehilangan dirinya sendiri dalam proses bekerja, maka peradaban apa yang sebenarnya sedang ia bangun?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar