Suatu malam, kabar duka itu datang begitu saja denganpelan, tapi langsung membuat suasana kampung serasa membeku. Aku sedang duduk di rumah ketika seseorang memberitahu bahwa saudara dua pupuku kehilangan anggota keluarganya. Biasanya, duka datang bersama kesedihan. Namun malam itu, duka datang bersama satu masalah lain yang tak kalah berat:
Harap Tak Bertuan
Ada sesuatu yang terus tumbuhdi reruntuhan musim gugur,
seperti rumput yang tak tahu cara menyerah,
ia menegakkan diri meski angin tak lagi punya arah.
aku pernah menanam doa
di tanah yang kering oleh waktu,
Inkompetensi yang Diwariskan: Dari Jalur Orang Dalam ke Krisis Profesionalisme
Di banyak ruang kerja hari ini, kompetensi tidak lagi menjadi kunci utama untuk masuk dan bertahan. Yang lebih menentukan justru siapa yang kamu kenal, bukan apa yang kamu bisa. Fenomena “jalur orang dalam” kini bukan sekadar rahasia umum, tapi sudah menjelma jadi sistem yang diwariskan secara perlahan, tapi pasti, menumbuhkan generasi pekerja yang lemah secara profesional, dan perusahaan yang kehilangan jati dirinya.
Sebuah laporan dari Kompas tahun 2024 menyoroti meningkatnya praktik rekrutmen non-kompetitif di sejumlah instansi dan perusahaan swasta. Dalam beberapa kasus, proses seleksi hanya formalitas, karena kursi sudah “disiapkan” untuk seseorang yang punya kedekatan personal dengan pimpinan atau manajemen. Akibatnya,
Paradoks Pertukaran Pendapat: Kita Butuh Saran, Tapi Takut Dihukum Karena Tak Mengikutinya
Ada kalanya kita berada di titik bimbang, di mana keputusan terasa begitu besar, seolah menentukan arah hidup berikutnya. Di saat-saat seperti itu, kita mencari teman bicara, seseorang yang bisa mendengarkan, memberi pendapat, atau sekadar mengingatkan bahwa kita tidak sendirian dalam kebingungan. Kita mengetik pesan ke teman, menelpon orang tua, atau bahkan membuka percakapan panjang di grup kecil: “Kalau kamu di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?”
Namun di balik niat sederhana untuk meminta pandangan, ada paradoks yang jarang disadari:
996: Budaya Kerja yang Menggerus Kemanusiaan dan untuk Kemajuan Peradaban
Apa jadinya jika kemajuan peradaban dibangun di atas kelelahan manusia? Di dunia yang menyanjung produktivitas, bekerja tanpa henti sering dianggap sebagai bentuk dedikasi tertinggi. Namun di balik layar ambisi dan prestasi, tersimpan kenyataan pahit:
Susah Cari Kerja? Jangan Kaget, HR Juga Pusing Menemukan Kandidat Tepat!
Pernahkah kamu duduk menatap layar laptop, menunggu balasan dari lamaran kerja yang sudah dikirim beberapa hari lalu? Atau bahkan beberapa minggu? Bayangkan rasanya, jantung berdebar setiap kali notifikasi muncul, harapan naik turun seperti roller coaster, dan rasa ragu mulai merayap di kepala: Apakah aku kurang bagus?
Langganan:
Postingan (Atom)





