Ngejar Passion, Tapi Masih Hampa? Ini Hubungannya dengan Kebahagiaan

Pernah nggak sih lo lagi asik ngelakuin sesuatu yang lo banget. Misal ngegambar, nge-scroll karya orang, mainin musik, atau bikin konten, terus tiba-tiba ngerasa ada yang… missing? Kayak waktu berhenti, tapi bukan berarti semua senyum itu tulus atau semua happy itu nyata. Banyak yang bilang, “Lakuin aja apa yang lo suka, pasti bahagia.” Tapi bro, tapi tidak sesimpel itu bukan?

Dalam Psikologi positif ngenalin konsep flow state ketika seseorang tenggelam total dalam aktivitas yang menantang tapi sesuai kemampuan mereka, yang katanya bisa bikin puas dan bahagia (Csikszentmihalyi, 1990). Sounds legit, kan? Tapi realitanya, flow itu kadang bikin lo kecanduan kerjaan atau passion yang lo pikir bikin lo happy, tapi sebenernya bikin lo burnout. Jadi, apa yang kita kira sebagai “passion = happiness” kadang cuma versi hype dari realita yang messy banget.

Selain itu, bahagia itu juga super subjektif. Kahneman & Deaton (2010) ngebedain hedonic happiness, seneng sesaat, misal makan pizza, dengerin musik, atau scroll TikTok dengan evaluative happiness, refleksi mendalam tentang kehidupan kita secara keseluruhan. Lo bisa aja lagi asik ngelakuin hal yang lo suka, tapi evaluasi diri lo bilang, “Ini cukup nggak ya untuk hidup gue?” Pertanyaan itu yang bikin penasaran tapi juga deg-degan, karena lo sadar bahagia itu nggak cuma soal fun.

Lucunya, kadang hal yang bikin lo happy justru nggak sesuai ekspektasi orang lain. Orang tua bilang, “Liat tuh, kerja yang proper dong,” padahal lo lagi happy ngejar passion lo yang nggak mainstream. Makanya Seligman (2011) bilang, bahagia itu muncul dari kombinasi pleasure, engagement, dan meaning. Jadi, pertanyaannya: lo ngejar apa senang doang, atau bahagia beneran?

Dan kalau lo mikir, “Yaudah gue kejar passion aja,” hati-hati, karena passion itu kadang bikin dilema. Misal lo suka desain tapi klien gue susah banget, deadline meledak, duit tipis, apakah lo tetep happy? Atau lo cuma ngerasa terbawa arus sambil nanya-tanya, “Ini worth it nggak sih?” Pernah nggak ngerasa guilty karena passion lo bikin lo jauh dari temen, keluarga, atau bahkan diri sendiri? Yeah, itu gap yang jarang dibahas orang, tapi penting banget.

Mungkin yang bikin kita ngerasa bahagia itu bukan sekadar apa yang kita minati, tapi gimana kita berdamai sama perjalanan itu, termasuk semua chaos-nya. Ada yang bilang, bahagia itu kayak musik jazz ya kadang improv, kadang nggak sesuai rencana, tapi tetap bikin kita terhanyut. Dan di situlah rasa penasaran muncul: kalau passion nggak otomatis bikin bahagia, berarti apa sih yang sebenernya bikin hidup kita bermakna?

Akhirnya, kita dihadapkan sama satu pertanyaan yang gampang banget dilihat tapi susah dijawab: bahagia itu tujuan, atau cuma teman perjalanan yang muncul tanpa diminta? Kalau teman, berarti kita harus siap-siap nemuin dia di tempat-tempat yang nggak kita expect, bahkan di tengah chaos yang kita kira bikin stress. Dan kalau tujuan… well, apakah ada orang yang bener-bener sampai di sana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar