Hari ini aku ingin menuliskan sesuatu, bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk menyapa bagian dari diriku yang sudah bertahan sejauh ini.
Aku sudah selesai menulis tesisku.
Sebuah perjalanan panjang yang dulu pernah kamu bayangkan akan kulalui denganmu di sisi. Tapi kini, aku menyelesaikannya sendirian dan tidak lagi dengan harapan yang dulu kita rawat bersama.
Dulu, setelah aku menyelesaikan sidang skripsi, kamu bilang, “Setelah ini, badai yang akan kamu lewati lebih besar. Tapi aku percaya kamu tidak akan kalah.” Kamu juga pernah meyakinkanku, “Kamu tidak akan pernah sendiri melalui hal itu.”
Namun pada kenyataannya, aku harus melewati badai itu sendiri. Aku memang tidak kalah, tapi aku harus mengakui: aku juga tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Aku bahkan pernah bilang, “Aku akan meneliti di desamu.” Alasannya sederhana: supaya aku bisa belajar tentang budayamu, mengenal duniamu. Tapi badai datang, dan kali ini sungguh dahsyat. Seperti yang kamu pernah bilang. hanya saja bedanya, kamu tidak ada di situ seperti yang kamu janjikan.
Lucunya, aku tetap menjalani semuanya. Seolah-olah kamu tidak pernah mengingkari janji. Padahal, hatiku tahu: kamu memang tidak kembali.
Untuk itu, izinkan aku menuliskan ini, bukan untuk membuka luka, tapi sebagai bentuk terima kasih.
Terima kasih, untuk bayanganmu yang pernah hadir memberi semangat. Terima kasih untuk harapan yang dulu sempat membuatku percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Dan meskipun kamu tidak lagi di sini, aku harap kamu tetap baik-baik saja, di mana pun kamu berada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar