Tidak semua butuh cerita kan?


Sudah sekian lama aku bertahan dengan sesuatu yang, sebenarnya... tidak pernah benar-benar aku inginkan.

Ada hari-hari ketika aku ingin sekali bercerita. Bukan untuk didengar dan diberi solusi, hanya agar bebanku tak harus aku panggul sendiri. Tapi aku sadar,

aku tidak seasik mereka. Tidak sepandai merangkai cerita yang menarik. Tidak seluwes itu menumpahkan isi kepala dan perasaan.

Aku butuh didengar. Tapi kadang, bahasaku terasa asing bahkan bagiku sendiri. Kalimat-kalimatku sering terasa kabur dan tak mampu menjelaskan isi hatiku yang kacau.

Lalu pelan-pelan aku belajar, mungkin memang begini caranya lelaki terluka: diam-diam, dalam-dalam. Katanya lelaki tak seharusnya banyak bicara soal luka, soal kehilangan. Tapi jujur, aku muak dengan anggapan itu.

Semuanya mulai terasa hampa sejak kepergianmu.

Mungkin sekarang kamu lebih senang dengan pasangan barumu. Dan lucunya, aku mencoba ikut senang juga. Mencoba percaya bahwa itu juga bagian dari kebahagiaanku. Tapi di balik senyum pura-pura itu, ada perasaan yang selalu membuatku menyesali cara kita selesai.

Aku mencoba membuka diri pada kesempatan lain, pada telinga-telinga yang bersedia mendengar. Tapi rasanya tidak sama. Ada hal-hal yang tak bisa aku ceritakan. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku tahu mereka tak akan mengerti.

Jika dulu ceritaku padamu kau anggap sebagai sikap berlebihan dalam hubungan, maka bagi orang lain itu bahkan dianggap kelemahan. Padahal, bagiku... itulah sisi paling manusiawi yang kumiliki keinginan untuk dimengerti, meski aku sendiri belum tahu harus mulai dari mana.

Kamu di mana?
Tidakkah kamu juga pernah merasakan hal yang sama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar