Pernah Siap Namun Tak Pernah Sampai

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku menginjakkan kaki di kota yang dulu sering aku rencanakan untuk kudatangi saat ingin bermain ke rumahmu.

Ya, akhirnya aku sampai di kotamu, setelah semua ini selesai.

Entah kenapa kotamu selalu ada dalam bayanganku dulu. Dari “bagaimana kalau aku menjadi bagian dari kotamu,” hingga pelan-pelan aku mulai menyiapkan diri untuk itu. Lucu ya, dulu aku tidak pernah seserius ini dalam hubungan, tapi entah bagaimana, aku perlahan mengikuti alur pertanyaanmu: “Kita akan menikah kan?”

Waktu itu aku menjawab hanya sekadar merespon pertanyaanmu, tapi sialnya, aku malah menjadi jauh lebih serius daripada pertanyaanmu, bahkan sangat ingin memiliki kamu seutuhnya sebagai bagian dari ibadahku.

Rasanya, aku tidak menyangka akan berada di kotamu sekarang. Keseriusan itu sudah pelan-pelan aku kubur, tapi entah kenapa, semua itu kembali muncul saat aku tiba di sini. Aku bertanya-tanya, “Apakah ini bagian dari anugerah cinta?”  Yang katanya, bahkan orang paling jenius pun bisa menjadi bodoh karenanya.

Bodoh ya.
Padahal kamu sudah tidak berharap apa-apa lagi untuk itu, dan aku pun mengikuti keinginanmu selama ini. Bodoh banget, kan?

Ternyata kotamu indah ya.
Tapi aku kaget saat tahu kotamu masuk kategori 3T: tertinggal, terpinggirkan, dan terluar. Masak kota seindah ini masuk kategori itu? Aku tidak percaya. Kamu juga mungkin tidak percaya, bukan?

Ternyata, kota yang selama ini aku bayangkan, lebih indah daripada yang pernah aku pikirkan, selain tentang kamu, tentu saja.

Aku suka kotamu. Namun, untuk menjadi bagian darinya, sepertinya masih belum tentu.

Situbondo, 23 Juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar