Sebuah laporan dari Kompas tahun 2024 menyoroti meningkatnya praktik rekrutmen non-kompetitif di sejumlah instansi dan perusahaan swasta. Dalam beberapa kasus, proses seleksi hanya formalitas, karena kursi sudah “disiapkan” untuk seseorang yang punya kedekatan personal dengan pimpinan atau manajemen. Akibatnya, profesionalisme tenggelam di bawah bayang-bayang loyalitas semu.
Penelitian oleh James Baron dan Michael Hannan (Yale University, 2020) menunjukkan bahwa perusahaan yang memprioritaskan koneksi personal ketimbang kompetensi cenderung mengalami stagnasi inovasi dan penurunan produktivitas jangka panjang. Mengapa? Karena orang-orang yang dipilih bukan yang paling mampu, melainkan yang paling dekat. Dan kedekatan tidak selalu berarti kemampuan.
Inkompetensi yang Mengakar
Masalahnya bukan hanya di pintu masuk. Inkompetensi sering kali menular yang diwariskan melalui budaya kerja yang permisif terhadap ketidakmampuan. Ketika atasan tidak kompeten, ia cenderung memilih bawahan yang tidak mengancam posisinya. Rantai ini terus berulang, membentuk ekosistem kerja yang saling melindungi dalam ketidakmampuan. Dalam budaya seperti ini, kritik dianggap ancaman, bukan masukan. Kinerja diukur dari loyalitas, bukan hasil. Perusahaan pun secara perlahan kehilangan arah. Mereka mungkin masih beroperasi, tapi tanpa nilai. Masih berjalan, tapi tanpa tujuan.
Sosiolog Pierre Bourdieu pernah menulis bahwa kekuasaan sering dipertahankan melalui habitus yakni kebiasaan yang direproduksi tanpa disadari. Dalam konteks dunia kerja, habitus inkompetensi terbentuk ketika standar profesional diabaikan, dan setiap generasi baru belajar dari generasi lama yang sudah terbiasa bekerja “asal jalan.”
Fenomena ini makin kompleks karena banyak perusahaan sekarang cenderung asal rekrut. Alih-alih mencari tenaga profesional yang sesuai bidang, mereka lebih fokus pada kecepatan dan biaya murah. Yang penting posisi terisi. Soal kualitas? Nanti dulu. Ada perusahaan yang bahkan menugaskan karyawan dengan latar belakang pendidikan yang sama sekali tidak relevan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya menuntut keahlian khusus. Misalnya, pekerja yang diminta memberikan layanan teknis atau konsultatif padahal tidak punya pengetahuan dasar di bidang itu. Mereka sendiri tahu tidak cukup mampu, tapi tetap melakukannya karena “yang penting dapat kerja.”
Bagi perusahaan, ini tampak efisien di awal. Tapi di balik itu, mereka tengah menurunkan standar dan merusak nilai profesionalisme. Citra perusahaan jadi kabur: produk mungkin bagus, tapi pelayanannya berisiko; misi perusahaan mulia, tapi dijalankan oleh orang yang tak tahu arah. Seorang pakar manajemen, Henry Mintzberg, pernah menyebut bahwa profesionalisme bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan kesadaran etis untuk tahu batas kemampuan diri dan tanggung jawab atas pekerjaan. Ketika aspek ini hilang, perusahaan tidak lagi membangun reputasi namun mereka hanya menjual citra kosong.
Lingkaran Setan Pekerja Asal
Namun yang paling menyedihkan adalah efek domino yang timbul di masyarakat. Ketika rekrutmen tak lagi berbasis kemampuan, para pencari kerja pun ikut kehilangan motivasi untuk meningkatkan kompetensi. “Buat apa belajar kalau yang diterima tetap yang punya koneksi?” begitu kira-kira bisikan batin banyak orang muda hari ini. Dari sinilah muncul fenomena pekerja yang hanya mencari aman, bukan berkontribusi. Yang penting ada penghasilan, tak masalah jika pekerjaan tak sesuai minat atau kemampuan. Mindset bertahan menggantikan mindset berkembang. Dunia kerja berubah jadi arena kompromi moral: asal punya kerja, tak peduli apakah bisa bekerja dengan benar.
Dalam jangka panjang, ini menggerus daya saing nasional. Menurut laporan World Economic Forum 2023, salah satu faktor utama rendahnya produktivitas di negara berkembang adalah ketidaksesuaian antara kemampuan pekerja dan kebutuhan industri (skills mismatch). Dan ini tidak lepas dari praktik rekrutmen yang mengabaikan kompetensi sebagai dasar.
Karena Sebuah organisasi hidup dari nilai yang dipegangnya. Ketika nilai itu dikorbankan demi kenyamanan atau koneksi, organisasi berubah menjadi tubuh tanpa ruh. Banyak perusahaan yang dulu berdiri atas idealisme kini beroperasi layaknya mesin: hanya mengejar target, tapi lupa makna. Mereka bisa besar, tapi rapuh. Bisa ramai, tapi kosong. Reputasi perusahaan bukan hanya dibangun dari produk, tapi dari orang-orang yang menjalankannya. Ketika pekerja tidak memahami esensi pekerjaannya, pelayanan berubah jadi formalitas, komunikasi jadi basa-basi, dan inovasi berhenti di meja rapat. Dunia kerja kehilangan makna manusiawinya. Dalam wawancara bersama Harvard Business Review, Amy Edmondson (Harvard Business School) menegaskan bahwa budaya kerja yang sehat lahir dari rasa aman psikologis dan kompetensi yang nyata. Ketika dua hal itu hilang, organisasi bukan hanya gagal tumbuh, tapi bisa menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.
Menolak Budaya Inkompetensi
Mengubah budaya inkompetensi bukan perkara mudah. Ia sudah mengakar dalam struktur sosial dan ekonomi. Tapi bukan berarti mustahil. Perusahaan perlu berani menegakkan standar rekrutmen yang jujur dan transparan, serta menciptakan ruang belajar berkelanjutan bagi karyawannya. Sementara itu, individu juga harus berani mengambil tanggung jawab atas kompetensinya sendiri. Tidak cukup hanya ingin punya pekerjaan tapi harus juga punya kapasitas dan integritas untuk melakukannya dengan baik.
Profesionalisme adalah komitmen yang tumbuh dari dalam diri. Ia tidak datang dari gelar, jabatan, atau relasi, tapi dari kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Inkompetensi yang dibiarkan adalah warisan berbahaya. Ia mungkin tidak terlihat sekarang, tapi akan terasa ketika sistem mulai runtuh pelan-pelan. Dari satu keputusan rekrutmen yang salah, bisa lahir budaya kerja yang rusak. Dari satu kebiasaan menoleransi ketidakmampuan, bisa lahir organisasi yang kehilangan arah.
Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar koneksi. Ia butuh keberanian untuk memilih yang layak, bukan yang dekat. Butuh tekad untuk mengembalikan arti profesionalisme: bekerja bukan hanya demi uang atau posisi, tapi demi tanggung jawab pada nilai dan manusia di balik pekerjaan itu sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar