Suatu malam, kabar duka itu datang begitu saja denganpelan, tapi langsung membuat suasana kampung serasa membeku. Aku sedang duduk di rumah ketika seseorang memberitahu bahwa saudara dua pupuku kehilangan anggota keluarganya. Biasanya, duka datang bersama kesedihan. Namun malam itu, duka datang bersama satu masalah lain yang tak kalah berat:
mereka tidak punya uang untuk pulang ke pemakaman.
Keluarga itu tinggal jauh dari kampung. Saat kabar meninggalnya sampai, mereka langsung limbung. Bagaimana mereka harus berangkat? Dengan apa? Ke mana harus meminta tolong? Bahkan untuk kebutuhan harian, mereka sudah sering harus menahan diri apalagi perjalanan mendadak menuju pemakaman.
Mereka mencoba mencari jalan.
Mengetuk pintu tetangga.
Meminta bantuan saudara dari pihak istrinya.
Tapi lingkungan mereka juga orang-orang sederhana, yang hidupnya pas-pasan, yang ingin membantu tetapi kemampuan tidak sejalan dengan keinginan.
Bukan karena mereka tak peduli.
Hanya saja hidup kadang kejam pada orang yang bahkan sedang berduka.
Yang lebih menusuk adalah ketika seseorang nyeletuk, tanpa memikirkan apa yang sedang dirasakan keluarga itu:
"Makanya kalau menikah jangan sama orang jauh. Kalau begini ya susah."
Malam itu terasa semakin dingin.
Ucapan itu jatuh bukan sebagai nasihat, bukan juga sebagai solusi. Melainkan sebagai luka baru. Seolah-olah jarak pernikahan adalah biang keladi dari kesulitan mereka, bukan karena mereka sedang terjepit oleh keadaan yang tidak mereka pilih.
Padahal, kehilangan tidak pernah memandang jarak.
Yang memerlukan ongkos adalah perjalanan menuju perpisahan terakhir.
Aku melihat bagaimana saudaraku menahan perasaan. Di matanya ada sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa kehilangan bercampur rasa bersalah, seolah ia menjadi manusia paling tidak berdaya hanya karena tidak bisa hadir mengantar orang yang ia cintai ke tempat peristirahatan terakhir.
Aku hanya bisa membatin, semoga mereka diberi kekuatan untuk melewati malam yang panjang ini.
Aku sendiri saat itu juga tidak sedang berada dalam kondisi paling lapang. Ada keterbatasan yang membuatku tidak bisa membantu sebanyak yang aku inginkan. Namun sedikit bantuan dan doa tetap kuusahakan, meski aku tahu itu tidak akan mampu menutup seluruh luka.
Suatu malam itu mengajariku sesuatu yang tak pernah kutemukan di buku mana pun:
Bahwa hidup kadang tidak hanya merenggut seseorang, tetapi juga merenggut kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Bahwa tidak semua orang mampu hadir di pemakaman, bukan karena tidak peduli, tapi karena kenyataan hidup lebih keras dari yang terlihat.
Dan bahwa komentar tanpa empati sering kali lebih menyakitkan daripada kemiskinan itu sendiri.
Malam itu aku sadar:
Yang membuat manusia berharga bukanlah harta, tetapi kemampuannya memahami kesedihan orang lain tanpa menambah luka di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar